BPPT Kembangkan Sistem Pemantauan Terpadu

Bencana hidrologi di daerah aliran sungai dan kebakaran hutan di lahan gambut dapat diantisipasi dengan menerapkan sistem peringatan dini berdasarkan hasil pemantauan permukaan air di kawasan itu. Hal inilah yang mendorong Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengembangkan sistem pemantauan parameter perairan menggunakan serangkaian sensor. 

Dalam lokakarya di Perum Jasa Tirta II Jatiluhur, Purwakarta, Selasa (21/3), pakar instrumentasi dari BPPT, Sidik Mulyono, memaparkan sistem pemantauan sumber daya air terintegrasi. Sistem ini meliputi penginderaan jauh satelit multispektral dan radar serta sensor topografi untuk memantau tinggi muka air. 

Data dari satelit kemudian dipadukan dengan hasil pemantauan di permukaan bumi, antara lain menggunakan geolistrik dan sistem pemantau tinggi muka air dengan sonar dan sensor. 

Sistem pemantau yang disebut Morpawa (Monitoring Real Time Permukaan Air Waduk) dan Morpalaga (Monitoring Real Time Permukaan Air Lahan Gambut) ini dirancang bangun Sidik dan tim dari Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah BPPT. Uji coba prototipe sistem ini dilakukan di Kalimantan dan Riau. Menurut rencana, Badan Restorasi Gambut akan memesan sekitar 200 unit untuk pemantauan lahan gambut di seluruh Indonesia.

Kerja sama Jepang

Saat ini, sistem monitor permukaan air yang diterapkan di Indonesia berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Beberapa tahun terakhir pakar gambut BPPT, Bambang Setiadi, bekerja sama dengan pakar hidrologi Takahashi dari Universitas Hokkaido, Jepang, mengembangkan sistem pemantauan real time atau seketika bernama Sesame. 

Sistem ini memantau tinggi muka air di lahan gambut. Sistem yang sama dapat digunakan untuk memantau waduk dan air sungai. Data yang dapat dikirim setiap 10 menit bisa dikirim ke lembaga dan pemda terkait. Kini sistem tersebut terpasang di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, dan Jawa Barat. Penelitian mereka di Kalimantan Tengah menunjukkan korelasi antara penurunan muka air dan kejadian kebakaran hutan.*

Kompas, 22 Mar 2017

Komentar